Berikut adalah beberapa upaya yang dapat Anda lakukan sebagai bentuk kontribusi dalam Penanggunangan TB
"Tuberkulosis tetap menjadi masalah kesehatan global yang serius. Kesadaran akan pentingnya deteksi dini, pengobatan yang tepat, dan pencegahan menjadi kunci dalam upaya untuk mengatasi penyebaran penyakit ini."
Penularan atau infeksi terjadi saat kuman TB yang berada dan bertebaran di udara terhirup oleh orang lain. Saat penderita TB batuk atau bersin tanpa menutup mulut, bakteri akan tersebar ke udara dalam bentuk percikan dahak atau droplet. Sekali batuk dapat mengeluarkan 3000 percikan dahak yang mengandung sampai 3500 kuman M. tuberculosis.Sedangkan sekali bersin mengeluarkan 4500 - 1 juta kuman M. tuberculosis. Bakteri masuk ke saluran pernapasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi 6-14 minggu setelah infeksi. Lesi umumnya sembuh total namun kuman dapat tetap hidup dalam lesi tersebut dalam keadaan dormant dan suatu saat dapat aktif kembali tergantung pada daya tahan tubuh.
Gejala utamanya adalah batuk terus-menerus (berdahak maupun tidak berdahak). Gejala lainnya adalah demam dan meriang dalam jangka waktu yang panjang; sesak nafas dan nyeri dada; berat badan menurun; ketika batuk terkadang dahak bercampur darah; nafsu makan menurun; dan, berkeringat di malam hari meski tanpa melakukan kegiatan.
1. Promosi kesehatan Salah satu tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat agar berperan aktif dalam rangka mencegah penularan TB, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menghilangkan diskriminasi terhadap pasien TB.
2. Surveilans TB Pemantauan dan analisis data dan informasi tentang kejadian TB dan faktor yang mempengaruhinya. Hasilnya akan digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program penanggulangan TB serta untuk meningkatkan kewaspadaan dini dan tindakan respon terhadap terjadinya peningkatan TB resistan obat.
3. Pengendalian faktor risiko TB Untuk mencegah, mengurangi penularan dan kejadian penyakit TB.
4. Penemuan dan penanganan kasus TB
Penemuan kasus TB dilakukan secara aktif maupun pasif. Secara aktif dilakukan melalui investigasi dan pemeriksaan kontak; skrining secara massal (terutama pada kelompok rentan dan beresiko); dan skrining pada kondisi khusus. Penemuan secara pasif dilakukan melalui pemeriksaan pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan
Penanganan kasus dilakukan untuk memutus mata rantai penularan dan/atau pengobatan pasien. Tata laksana kasus terdiri atas: pengobatan dan penanganan efek samping; pengawasan kepatuhan menelan obat; pemantauan kemajuan pengobatan dan hasil pengobatan; dan/atau, pelacakan kasus mangkir. Setiap pasien TB berkewajiban mematuhi semua tahapan dalam penanganan kasus TB.
5. Pemberian kekebalan Imunisasi BCG pada bayi merupakan tindakan pemberian kekebalan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tingkat keparahan TB.
6. Pemberian obat pencegahan Obat pencegahan TB diberikan pada: 1) anak usia di bawah 5 tahun yang kontak erat dengan pasien TB aktif; 2) orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang tidak terdiagnosa TB; atau 3) populasi tertentu lainnya. Pemberian obat pencegahan TB pada anak dan ODHA dilakukan selama 6 (enam) bulan.
Pengobatan berlangsung selama 6-8 bulan yang terbagi dalam 2 tahap. Pada tahap awal (intensif), obat diminum setiap hari selama 2 atau 3 bulan. Kemudian pada tahap akhir, obat diminum 3 kali seminggu selama 4 atau 5 bulan.